Penerapan mikropaleontologi dalam paleoklimatologi

Perubahan iklim menjadi perbincangan yang hangat sekarang ini, hal tersebut karena peranan media juga dalam menggulirkan isu soal pemanasan global / global warming. Sekarang kita kita akan membahas soal pemasanan global seperti yang diberitakan tetapi kita akan mencoba meliahat bagaimana kontribusi dari ilmu geologi khususnya mikropaleontologi dalam aplikasinya di bidang klimatologi.

Dalam geologi dikenal istilah “The present is the key to the past” artinya adalah bagaimana pemahaman kita tentang suatu gejala atau kondisi di alam menjadi alat kita dalam memahami gejala atau kondisi bahkan proses yang terjadi di alam waktu yang lampau bahkan pada waktu belum ada manusia hadir di dunia. Kita misalkan, bagaimana kondisi disungai sekarang mulai dari hulu sampai hilir memberikan bentukan alam yang bermacam-macam tentunya dalam hal ini bentukan hasil aktifitas manusia tidak dimasukkan dalam kategori tersebut.

Studi paleoklimatologi (paleoclimate) merupakan studi tentang bagaimana iklim yang terjadi pada masa lampau. Para peneliti dalam paleoklimatologi ini juga mempunyai slogan “ The past is the key to the present and the future” artinya adalah bagaimana data iklim yang terjadi pada waktu lampau dapat menjadi pedoman untuk memahami kondisi iklim sekarang dan memprediksi iklim di masa datang.

Dalam hal ini perlu diperhatikan tentang perbedaan antara iklim dan cuaca. Cuaca dapat disederhanakan menjadi kondisi udara dalam suatu daerah dalam waktu yang singkat sedangkan iklim adalah kondisi udara pada suatu daerah dengan area yang lebih luas dan dalam jangka waktu yang lama.

Rekaman proxy merupakan elemen terpenting dalam kajian paleoklimatologi, proxy adalah sesuatu benda yang merekam atau menggambarkan perubahan temperatur atau curah hujan tetapi dalam hal ini tidak secara langsung mengukur perubahan temperatur atau penguapan.
Data-data proxy ini dapat didapatkan diantaranya dari :
1.  Glaciologi (ice cores)
Data proxy ini diambil dari hasil coring es yang dilakukan di Antartika.
2.  Data-data Geologi
3.  Data geologi yang dapat digunakan misalkan dari sedimen berupa mineralogi dari lempung   sedimen ataupun dari sedimen biogenik (komposisi isotop oksigen dan kelimpahan dari biota).
4.  Biologi / Paleontologi
Data proxy dapat diambil dari urutan lingkar tahun pohon, polen, fosil bagian tanaman, serangga, diatom, ostrakoda, foraminifera ataupun terumbu karang atau koral.
5.  Data sejarah
Sejarah letusan gunung berapi.

Aplikasi palinologi dalam penelitian paleoklimatologi diantaranya dapat dipakai dalam penelitian ciri dari butir polen, produksi dan penyebaran polen dalam hal ini polen sebagai gambaran perubahan vegetasi dan iklim, sumber fosil polen, diagram polen dan pemetaan perubahan vegetasi.

Diagram Arboreal Pollen dengan Non Arboreal Pollen menggambarkan perubahan kondisi hutan, dimana berkembangnya Arboreal Pollen yang merupakan polen yang dihasilkan tumbuhan berkayu merefleksikan dari perkembangan hutan dengan iklim yang diduga relatif hangat sedangkan kebalikan perkembangan Non Arboreal Pollen yang dihasilkan kebanyakkan oleh tumbuhan rumput, semak dan tumbuhan tidak berkayu mencerminkan iklim yang relatif dingin seiiring dengan berkurangnya hutan.

Perubahan perputaran cangkang, perbedaan diameter pori-pori dan kandungan isotop oksigen pada foraminifera tertentu dapat pula dipakai sebagai data proxy untuk paleoklimatologi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*