Dinoflagellata cyst dalam palinologi

Kebanyakkan spesies dinoflagellata hidup di laut (marine) bersama nannoplankton (coccolithophores) dan diatom merupakan produsen utama dalam ekosistem laut.  Beberapa spesies dinoflagellata ditemukan juga di danau, sungai dan rawa.  Pertumbuhan dinoflagellata yang sangat cepat dan sangat banyak menyebabkan fenomena yang disebut “red tides”, kejadian ini dapat merubah air laut menjadi berwarna merah dan bersifat racun bagi organisme laut yang lain.  Hal ini dapat terlihat pada kejadian matinya ikan-ikan dilaut tanpa sebab yang jelas.  Pola distribusi dari dinoflagellata dipengaruhi oleh lintang, temperatur, salinitas, kedalaman laut dan pola sirkulasi lautan.

Klasifikasi awal dinoflagella adalah berdasarkan ada tidaknya suatu cangkang keras yang menutupi bagian tubuhnya, cangkang penutup tersebut dikenal dengan istilah theca.  Dinoflagellata yang mempunyai cangkang tersebut disebut dengan armoured dan spesies yang tidak mempunyai cangkang penutup disebut dengan unarmoured dinoflagellata.
Dinoflagellata memiliki siklus hidup haplontic kecuali Noctiluca dan kerabatnya.  Siklus hidup biasanya melibatkan reproduksi aseksual dengan cara pembelahan biner, siklus hidup yang kompleks lebih terjadi, khususnya pada jenis dynoflagellata yang hidup secara parasit.

Reproduksi seksual juga terjadi, meskipun mode ini reproduksi hanya dikenal pada sebagian kecil dari jenis dinoflagellata.   Cara ini berlangsung dengan fusi dua individu untuk membentuk zigot, yang membentuk bagian yang khas yang dikenal dengan planozygote.  Hasil perkawinan ini dapat membentuk tahap istirahat atau hypnozygote, yang disebut dinoflagellata kista atau dinocyst. Setelah (atau sebelum) perkembangan cangkangnya, hasil anakan tersebut akan membelah secara meiosis untuk menghasilkan sel haploid baru.

Dynoflagellate dapat hidup disemua kondisi lingkungan akuatik misalkan pada lingkungan lautan/marin, rawa payau, dan air tawa termasuk pada salju atau es.  Mereka juga seringkali ditemukan pada lingkungan bentonik dan perairan yang dingin.  Kumpulan dinocyst fosil yang paling melimpah adalah dari neritik ke lingkungan bathyal atas. Beberapa studi iklim purba (palaeoclimate)yang telah dilakukan memberikan gambaran terbatas tentang distribusi atau provinsi regional.

Bukti penelitian terbaru memberikan gambaran adanya intergradasi dari kedua jenis dinoflagella tersebut.  Pola cangkang penutup atau sering disebut paratabulasi yang terbentuk dari theca sehingga disebut bentuk bercangkang masih merupakan satu bagian penting pada klasifikasi dynoflagella hal ini dikarenakan pola atau tabulasi dynoflagella dapat memberikan gambaran bagaimana proses pembuatan  cangkang penutup tersebut ( hal ini sering disebut sebagai paratabulasi).

Aplikasi biostratigrafi berdasarkan dinoflagellata berhasil dilakukan dengan sukses, terutama dalam situasi di mana mikrofosil kalkareus tidak terawetkan atau tidak melimpah, misalnya dalam sedimen Mesozoikum klastik dari Alaska dan Laut Utara. Namun, ada beberapa biozonations dinoflagellata yang berlaku di daerah yang luas atau rentang waktu yang besar, datum kemunculan awal dan terakhir dimanfaatkan untuk menghasilkan biozonations pada cekungan yang telah terbukti tepat secara stratigrafi meskipun mereka tidak didasarkan pada klasifikasi sistematis ” alami “. Aplikasi palaeobiologi dari dinocysts mengalami masalah yang sama seperti aplikasi biostratigrafi yang lain.

Dinoflagellata terutama direpresentasikan sebagai fosil oleh dinocysts fosil, yang memiliki catatan geologis yang panjang dengan kemunculan awal pada pertengahan Triassic sementara penanda geokimia menyebutkan kemunculan awal pada Awal Cambrian. Ada beberapa bukti bahwa dinosteroids  banyak batuan sedimen Paleozoic dan Prakambrium mungkin produk dari leluhur dinoflagellata (proto dinoflagellata).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*