Geologi Kuarter

Dalam skala waktu geologi bagian teratas adalah bagian yang umurnya lebih muda.  Kuarter (Quaternary) merupakan zaman yang paling muda dalam skala waktu geologi zaman ini keadaan geografis dan kedudukan kepulauan di bumi sudah (hampir) seperti sekarang ini. Jadi pengertian  geologi kuarter adalah ilmu yang mempelajari secara luas segala aspek tentang bumi, meliputi sifat-sifat fisika dan kimia, proses-proses yang terjadi serta segala sesuatu yang terkandung di dalamnya dan sejarah kehidupan pada Zaman Kuarter.

Terminologi Kuarter (Quaternary) untuk geologi pertama kali diusulkan oleh Desnoyer pada tahun 1829 untuk endapan sedimen yang menutupi sedimen Tersier di Cekungan Paris (Paris Basin).  Pada tahun 1839, Lyell memngajukan nama Pleistocene – berarti paling baru – untuk endapan yang mengandung > 70 % moluska marin yang masih hidup hingga sekarang ini.  Selanjutnya, Forbes pada tahun 1846 menyatakan bahwa Pleistocene sebenarnya merupakan sinonim untuk Glacial Epoch, sedangkan Recent untuk Postglacial.  Pada tahun 1885, International Geological Congress mengusulkan terminologi Holocene yang berarti seluruhnya baru.
Akhir Zaman Kuarter (Pliosen) memasuki awal Zaman Kuarter (Plistosen) keadaan bumi sangat tidak stabil (labil) yang ditandai oleh kegiatan tektonik, gempa,magmatisme serta volkanisme yang sangat aktif, dikenal sebagai Fasa Tektonik Plio-Plestosen yang terjadi hampir diseluruh dunia, pada waktu bersamaan terjadi proses sedimentasi, perkembangan evolusi organisme (fauna dan tetumbuhan) yang pesat, serta kemunculan awal Hominidae (Kelompok Kera dan Manusia).

Zaman Kuarter dipisahkan dari Zaman Tersier dikarenakan beberapa hal, antara lain :
Munculnya manusia pertama/purba : Australopithecus –  Homo erectus
Terjadinya perubahan iklim hangat/panas (Pliosen – fauna panas) ke iklim dingin (Plestosen – fauna dingin)  jenis fauna : moluska laut
Foraminifera : Adanya kepunahan foram plankton  Globigerinoides saculiferus, Globigerinoides fustilosa, Globorotalia tosaensis yang punah pada Akhir Pliosen (N-21) dan munculnya Globorotalia truncatulinoides pada awal pemunculannya pada Plestosen Awal (N-22)
Punahnya nannoplankton Discoaster Akhir Pliosen.
Paleomagnetisme : Adanya magnetisme positive bumi pada saat periode negative Matuyama yang disebut periode Olduvai : 1,8 juta yl. ? sebagai batas Tersier dan Kuarter
Periode Glasiasi yaitu perubahan iklim menjadi lebih dingin.

Perkembangan stratigrafi kuarter di Pulau Jawa. Diawali dengan penemuan fosil manusia Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois tahun 1890-1892 di Desa Trinil, Jawa Timur. Hasil penelitian paleontologi vertebrata oleh von Koenigswald tahun 1934 – 1942. Penelitian geologi oleh Duyfjes (1936-1938), Ter Haar (1934), Van Es (1942) Lapisan Kaliglagah, Lapisan Pucangan, Lapisan Kabuh dan Lapisan Notopuro berkembang menjadi satuan resmi litostratigrafi sebagai formasi (van Bemmelen, 1949; Marks, 1957 ).  Litostratigrafi Kuarter di Jawa telah disusun sejak Zaman Belanda (1934 – 1942), bersamaan dan sejalan dengan penelitian paleontologi vertebrata serta penyusunan biostratigrafi vertebrata.

Permasalahan Stratigrafi Kuarter di Jawa adalah penentuan batas Zaman Tersier – Kuarter, hal tersebut dikarenakan belum ada acuan baku untuk batas Tersier – Kuarter.  Batas Tersier – Kuarter INQUA : 1,8 – 1,6 jtl., pada perioda kemagnetan Olduvai.  Batas yang sekarang ini diakui sebagian besar di dunia.  Untuk mengatasi masalah tersebut perlu kesepakatan dan kesamaan pandangan serta menentukan acuan baku batas Tersier – Kuarter di Indonesia.  Kurangnya minat geologis atau peneliti untuk melakukan riset membuat perkembangan pengetahuan zaman kuarter menjadi lambat, hal ini mungkin dikarenakan kurang nilai ekonomi yang mendorong penelitian lebih lanjut.  Penelitian kuarter sekarang lebih berkembang kearah iklim purba (paleoclimate).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*