Kelemahan dan kesalahan yang sering terjadi pada analisis biostratigrafi dalam eksplorasi migas

Faktor utama dari penggunaan analisis biostratigrafi dalam pencarian minyak dan bumi adalah metode penentuan umur sedimen ini merupakan metode yang mudah dilakukan dengan biaya yang murah.  Bayangkan jika semua sampel yang diperlukan harus ditentukan umurnya dengan metode radiokatif (dating), berapa besar biaya yang diperlukan untuk satu sumur pengeboran saja.  Tetapi biostratigrafi hanya memberikan umur relatif bukan umur absolut seperti hasil pada dating radiokatif ataupun medode dating lainnya.

Dalam aplikasi eksplorasi minyak biozonasi dipergunakan untuk menentukan umur relatif berdasarkan kisaran umur fosil organismen yang ada dalam sedimen, sedangkan kumpulan dari fosil yang ada pada sampel tersebut dibandingkan dengan distribusi hewan dan tumbuhan modern yang dipergunakan untuk menentukan lingkungan pengendapan yang terjadi pada saat pengendapan sedimen.

Kesalahan yang terjadi dalam analisis biostratigrafi bisa dikarenakan oleh pemilihan dan penggunaan tipe sampel, percampuran fosil, kontaminasi baik di lapangan ataupun di laboratorium, pemisahan fosil (picking), waktu analisis yang pendek, dan salah dalam determinasi serta identifikasi fosil.  Penggunanan sampal yang tidak sesuai baik jenisnya (lapangan, core atau cutting) ataupun secara litologi dapat berakibat tidak ditemukannya fosil yang dicari.  Misalnya penggunaan sampel cutting atau serbok bor yang biasanya terjadi jatuhan (caving) sehingga dapat ditemukan fosil dengan umur yang muda pada sampel yang seharusnya berumur lebih tua.  Contoh lainnya adalah sampel sedimen yang tidak carbonatan digunakan untuk analisis foraminifera ataupun sampel batu gamping digunakan untuk analisis palinologi.

Kontaminasi fosil terjadi apabila kita salah dalam memeperlakukan sampal sedimen misalkan pada sampel lapangan kita mencampur dua jenis batuan dalam satu tempat meskipun itu dalam satu singkapan dan litologinya yang jelas berbeda.  Alat laboratorium yang tidak bersihkan secara sempurna memberikan gambaran bagaimana proses kontaminasi fosil dapat terjadi.  Selain itu percampuran fosil dapat terjadi secara alami, hal tersebut terjadi apabila fosil yang sudah terendapkan kemudian mengalami erosi dan tertransport sampai kemudian terendapkan kembali.

Kesalahan analisis biostratigrafi dapat juga terjadi pada waktu analisis dilakukan.  Analisis yang dilakukan oleh seorang pemula seringkali memberikan gambaran yang kurang tepat, hal tersebut dapat terjadi karena minimnya pengalaman analis.   Pengalaman analisis sangat dibutuhkan dalam tahap determinasi dan identifikasi fosil.  Seringkali para analisis hanya mencocokan fosil dengan gambar-gambar yang ada di buku identifikasi tanpa melihat ciri-ciri atau karakteristik dari fosil tersebut sehingga didapatkan spesies yang tidak tepat hal itu berakibat fatal ketika spesies tersebut digunakan untuk menentukan umur sedimen.  Identifikasi hendaknya dilakukan dengan teliti dan melihat semua ciri-ciri fosil ataupun ciri pembeda dengan spesies fosil yang lain yang cirinya mirip dengan spesies tersebut.

Waktu determinasi, identifikasi ataupun analisis fosil yang dilakukan dengan cepat karena dateline waktu pekerjaan yang sempit tidak sedikit memberikan andil dalam kesalahan analisis biostratigrafi.  Waktu yang sempit akan membuat para analisis terburu-buru dalam menyelasaikan pekerjaannya, meskipun analisis tersebut sudah mempunyai pengalaman yang banyak tidak jarang terjadi beberapa fosil yang terlewat untuk dilakukan determinasi dan identifikasi.  Hal hal yang diatas merupakan contoh bagaimana kesalahan analisis biostratigrafi dapat terjadi.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*