Perkembangan Palinologi di Indonesia

Palinologi secara umum menjadi cabang ilmu yang belum terlalu tua jika dibandingkan dengan mikrofosil yang lain seperti foraminifera atau nanoplankton, bahkan di Indonesia baru mulai berkembang sekitar tahun 30an. Tahun 1933, Polak meneliti sedimen gambut berumur Resen di Jawa dan Sumatra.  Tahun 1968, Germeraad, Hoping dan Muller meneliti sedimen Tersier di daerah tropis termasuk Indonesia.  Di mulai sejak perkembangan eksplorasi migas di delta mahakam, karena dirasa mikrofosil seperti foraminifera dan nanoplankton tidak terlalu memberikan gambaran yang jelas maka dibutuhkan alat bantu lain untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai sejarah pengendapan delta Mahakam.  Peneliti asing bernama Flenley tahun 1973 melakukan penelitian pollen sedimen Kuarter dilanjutkan oleh Morley yang melakukan penelitian pada tahun 1976.  Sekitar tahun 1977 Morley mulai meneliti fosil pollen di sedimen Tersier dan mencoba menyusun zonasi pollen.

Kemudian sekitar 1985 mulai ada peneliti-peneliti Indonesia yang mempelajari pollen Tersier dan Kuarter, penelitian ini dilakukan oleh beberapa universitas seperti ITB dan UGM serta lembaga penelitian seperti Lemigas dan Badan Geologi bekerja sama dengan palinologis asing mengembangkan cabang ilmu ini di Indonesia.

Sejak saat tersebut palinologi mulai berkembang di Indonesia, apalagi ditambah eksplorasi minyak di delta Mahakam yang membutuhkan alternatif fosil yang digunakan dalam penentuan dan lingkungan pengendapan yang lebih tepat.  Guna memberikan umur dari hasil analisis palinologi dosen universitas bersama lembaga penelitian pemerintah membuat suatu riset palinologi (Riset Unggulan Tahunan) yang menghasilkan zonasi palinologi Jawa (Indonesia) bagian barat.

Saat ini di Indonesia palinologi mengalami perkembangan yang pesat, beberapa universitas menghasilkan palinologis yang siap bekerja di bidangnya.  Beberapa palinologis muda telah mendapat beasiswa dan mengambil doktoral di Eropa ataupun Australia.  Hal ini tentu saja meberikan harapan bagi perkembangan ilmu palinologi di tanah air.

Kendala-kendala yang dihadapi oleh palinologis di Indonesia sebenarnya sama dengan kendala yang di hadapi oleh peneliti di bidang lain di negeri ini.  Dana penelitian yang kecil merupakan kendala yang paling utama.  Untuk tahapan preparasinya saja palinologi membutuhkan dana yang sangat besar jika dibandingkan dengan preparasi fosil lain, penggunaan alat dan bahan kimia yang banyak dana.

Saat ini hanya beberapa laboratorium saja yang dapat melakukan preparasi palinologi diantaranya adalah Laboratorium Palinologi teknik Geologi ITB dan Unpad dan lembaga penelitian di bawah kementrian ESDM seperti LEMIGAS Jakarta dan P3GL Bandung ataupun LIPI.

Analisis palinologi sampai saat ini dilakukan utamanya hanya untuk penentuan umur dan lingkungan pengendapan di industri minyak dan gas.  Untuk riset atau penelitian yang mendasar di palinologi jarang dilakukan oleh sekolah atau universitas dikarenakan sedikitnya mahasiswa yang tertarik dalam bidang ini dan juga diperlukan dana penelitian yang tidak sedikit. Lembaga penelitian pemerintah yang ada juga tidak memberikan kontribusi yang nyata dalam riset-riset dasar dikarenakan adanya tugas dan fungsi yang dibebankan kepada lembaga penelitian pemerintah.  Dengan demikian riset dasar palinologi tidak bisa menjadi judul utama dalam pengajuan proposal penelitian lembaga pemerintah sedangkan untuk pengembangan tersebut diperlukan riset atau penelitian yang mendasarkan sehingga membentuk suatu pondasi yang kuat bagi perkembangan palinologi sendiri.

Beberapa aplikasi palinologi yang dapat di terapkan selain penentuan umur batuan dan lingkungan pengendapan sedimen dalam eksplorasi migas antara lain untuk riset perubahan iklim.  Riset dasar ini malah lebih banyak dilakukan oleh negara-negara asing guna mengumpulkan data tentang iklim yang terjadi dulu dan dapat dipakai sebagai bahan untuk memprediksi iklim di masa yang akan datang sehingga dapat menjadikan suatu kebijakan yang dilakukan semua negara di dunia secara bersamaan (Global Warming).  Harapan penulis adalah semua palinologis dapat memberikan ide dan ilmunya untuk masa depan yang lebih baik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*