Biozonasi palynology Indonesia bag. barat

Palynology dapat digunakan untuk analisis umur suatu batuan sedimen.  Hasil identifikasi fosil yang dilakukan dibawah mikroskop mendapatkan fosil dengan kelimpahan dan keanekaragaman taksa tumbuhan yang berbeda-beda.  Pada dasarnya dalam palynology  penentuan umur batuan sedimen dilakukan dengan menggunakan prinsip kemunculan awal (FAD) dan kemunculan akhir (LAD) dari suatu taksa tumbuhan.

Untuk Indonesia bagian barat umur sedimen zaman Tersier dibagi menjadi 8 zona palynology.  Zonasi Palynology Indonesia bagian Barat ini sebenarnya masih sangat perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan harus direvisi kembali untuk mendapatkan umur relatif yang lebih baik.  Beberapa hal yang perlu dikritisi adalah penggunaan fosil indek yang memakai taksa lingkungan mangrove sehingga tidak optimal ketika bekerja di lingkungan yang lebih ke darat.  Kisaran takson indeks yang sangat panjang, perlu untuk lebih didetilkan lagi.

Zonasi pollenPenjelasan dari biozonasi ini adalah sebagai berikut :

  • Zona Monoporites annulatus.

Fosil Graminae Monoporites annulatus sangat melimpah berasosiasi dengan Dacrycarpidites australiensis  tanpa kehadiran Stenochlaeniidites papuanus dan berumur N22-N23 menurut Zonasi Blow.  Dacrycarpidites australiensis mempunyai affinitas Podocarpus imbricatus masih dapat ditemukan dalam sedimen resen.  Dacrycarpidites australiensis merupakan salah satu taksa yang merupakan penciri lingkungan montane (pegunungan)

  • Zona Dacrycarpidites australiensis.

Zona ini berumur N20-N22 pada zonasi Blow dibatasi oleh kepunahan Stenochlaeniidites papuanus serta kemunculan awal Dacrycarpidites australiensis.

  • Zona Stenochlaenidites papuanus.

Zona ini dibatasi oleh kepunahan Florschuetzia trilobata dan kemunculan awal  Stenochlaenidites papuanus dan berumur N16-N21. Florschuetzia trilobata, Florschuetzia meridionalis, Florschuetzia levipoli merupakan takson yang merupakan penciri lingkungan mangrove.

  • Zona Florschuetzia meridionalis.

Berumur N9-N16, Zona ini ditandai oleh pemunculan awal Florschuetzia meridionalis dan kepunahan Florschuetzia trilobata.

  • Zona Florschuetzia levipoli.

Dalam zonasi Blow berumur N6-N8, dibatasi oleh kemunculan awal Florschuetzia levipoli dan kemunculan awal Florschuetzia meridionalis.

  • Zona Florschuetzia trilobata.

Zona ini berumur N3-N5 dan ditandai oleh kepunahan Meyeripollis naharkotensis dan kemunculan awal Florschuetzia levipoli.

  • Zona Meyeripollis naharkotensis.

Zona ini berumur Oligosen atau P18-N2, dicirikan oleh kisaran Meyeripollis naharkotensis dan dalam zona ini dijumpai pula fosil penunjuk Oligosen lainnya yaitu Cicatricosisporites dorogensis.

  • Zona Proxapertites operculatus.

Zona ini berumur Eosen atau P14-P17 menurut Zonasi Blow. Dalam zona ini didapatkan juga penunjuk umur untuk Eosen seperti Proxapertites cursus dan Cicatricosisporites eocenicus dan ditandai oleh kisaran Proxapertites operculatus.

Zonasi palynology hanya berlaku di Indonesia bagian barat (merupakan bagian dari lempeng Eurasia) dikarenakan secara sejarah tektonik dan penyebaran geografis dari tumbuhannya berbeda dengan daerah Indonesia Timur (Papua dan sekitarnya) yang berasal dari lempeng Indo-Australia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*