Kunci identifikasi foraminifera

Cara determinasi atau identifikasi foraminifera biasanya dilakukan dengan mencocokkan dengan gambar di buku idenfikasi (hohohoho itu cara mahasiswa praktikum dulu).  Sebenernya cara ini tidak memberikan hasil yang tepat karena bisa saja ada perbedaan yang nyata.  Idealnya kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi poin penting dalam identifikasi atau determinasi apapun jenis fosilnya.

Ini salah satu kunci untuk identifikasi genus plangtonik umur Kenozoik menurut peneliti foraminifera bernama Postuma dalam bukunya berjudul Manual of Planktonic Foraminifera

1. Test seluruhnya planispiral:
1.1 Equatorial aperture:
1.1.1 kamar-kamar globular sampai subglobular = Hastigerina
1.1.2 pada putaran awal kamar globular, pada putaran terakhir memanjang atau clavate = Clavigerinella
1.1.3 pada putaran awal kamar globular, pada putaran terakhir pointed = Bolliella
1.1.4 kamar subglobular atau radial memanjang dengan tubulos-spine = Hantkenina
1.2 Apertur utama equatorial dengan accesory aperture berupa aerial aperture:
1.2.1 kamar sublobular dengan tubulos-spine = Cribrohantkenina

2. Test planispiral pada awalnya, kemudian menjadi enrolled biserial
2.1 apertur extraumbilical
2.1.1 kamar globular sampai subglobular = Cassigerinella

3. Test seluruhnya trochospiral:
3.1 Umbilical aperture:
3.1.1 tanpa bulla
3.1.1.1 apertur dengan atau tanpa lip tipis, tak ada apertur tambahan = Globigerina
3.1.1.2 apertur dengan atau tanpa lip tipis, dengan aperture suture tampahan = Globigerinoides
3.1.1.3 aperture ditutupi oleh suatu struktur gigi umbilical, tak ada aperture tambahan = Globoquadrina
3.1.1.4 apertur pada putaran akhir berupa suture aperture dengan jumlah banyak = Candeina
3.1.2 dengan bulla:
3.1.2.1 bulla berada di umbilicus, kadang sedikit memanjang ke arah satu atau dua sutura; apertur berada disekitar bulla pada suture dengan jumlah bervariasi 1-5 = Catapsydrax (=Globigerinita of Blow, 1979)
3.1.2.2 bulla (bentuk seperti bulla) yang merupakan perpanjangan kamar akhir yang menutupi umbilical aperture dan mempunyai lokasi bukaan terbatas sepanjang suture = Globigerinita
3.1.2.3 bulla menutupi umbilicus dan menerus dengan bentuk sinuous sepanjang suture pada sisi umbilical; punya banyak apertur tambahan sepanjang tepi-tepi bulla = Tinophodella
3.2 Aperture extraumbilical-umbilical tanpa bulla:
3.2.1 tanpa apertur tambahan pada sutura
3.2.1.1 kamar lonjong (subglobular) sampai rhomboid runcing atau conical runcing, dengan atau tanpa hiasan tunggal = Globorotalia

Dengan catatan menurut Blow, W.H. pada bukunya berjudul Late Middle Eocene to Recent Planktonic Foraminiferal Biostratigraphy memberi gambaran yang sedikit berbeda penamaannya :
BILA KAMAR SUBGLOBULAR TANPA KEEL = Turborotalia;
BILA KAMAR PIPIH DENGAN KEEL = Globorotalia
BILA KAMAR SUBGLOBULAR-SUBANGULAR-CONICAL, DINDING PERFORATE DENGAN SPINOSA TANPA KEEL = Acarinina
BILA KAMAR SUBANGULAR-CONICAL, DINDING PERFORATE DENGAN SPINOSA DAN MEMPUNYAI KEEL (KEEL YANG BERUPA KUMPULAN DURI-DURI) = Morozovella
BILA KAMAR ROUNDED TO POINTED, LOW TROCHOSPIRAL = Bella
3.2.1.2 kamar putaran akhir radial memanjang, clavate atau cylindrical tanpa hiasan tepi = Clavatorella
3.2.1.3 mempunyai struktur gigi pada apertur = Neogloboquadrina
3.2.2 dengan apertur tambahan pada sutura di bagian dorsal = Truncorotaloides

4. Test pada putaran awal trochospiral, putaran akhir atau kamar akhir melingkupi sebagian atau seluruh kamar putaran sebelumnya
4.1 tanpa bulla
4.1.1 seperti globigerina, putaran akhir atau kamar akhir melingkupi sebagian umbilical dengan aperture tambahan pada sutura melingkupi umbilical ruang = Globigerapsis
4.1.2 seperti globigerinoides dengan kamar akhir mempunyai aperture tambahan pada sutura yang melingkupi umbilical ruang = Orbulinoides atau Praeorbulina
4.1.3 seperti globigerina dengan kamar akhir seluruh atau hampir seluruhnya melingkupi kamar pada putaran sebelumnya; aperture sepanjang sutura dan aerial aperture pada kamar akhir = Orbulina
4.2 dengan bulla
4.2.1 seperti globigerina, putaran akhir atau kamar akhir membulat menutupi umbilicus, mempunyai aperture tambahan pada sutura yang ditutupi oleh bulla sempit ( tiap bulla punya lubang infralaminal) = Globigerinatheka
4.2.2 seperti globigerinatheka, sutura lebih tak teratur; aperture multiple tersebar pada kamar akhir yang ditutupi oleh bulla; bulla appressed, bervariasi menutupi sebagian besar test , tiap bulla mempunyai lubang infralaminal (infralaminal aperture) sepanjang tepi-tepinya = Globigerinatella
4.3 dengan atau tanpa bulla
putaran awal seperti globigerina, putaran akhir terdiri 2 atau 3 kamar yang berpukan erat, stuktur dinding komplek terdiri dari lebih satu lapisan kulit meterial. aperture slit-like atau iregular
4.3.1 hanya punya satu apertuer = Sphaeroidinellopsis
4.3.2 punya dua atau lebih apertur = Sphaeroidinella

5. Test pada putaran awal trochospiral menjadi streptospiral pada putaran akhir; pada putaran awal umbilicus terbuka, pada putaran akhir tanpa ada umbilicus = Pulleniatina

6. Test streptospiral, kamar clavate, radial elongated, pada pertumbuhan selanjutnya menjadi bifurcating atau trifurcating = Hastigerinella

Kesalahan dalam penentuan identifikasi atau determinasi akan memberikan gambaran yang salah dalam hal biostratigrafi dan penentuan lingkungan pengendapan atau paleoenvironment.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*