Palynology (pollen dan spora)

Palynology menggunakan pollen dan spora sebagai alat utama dalam analisisnya, hal ini dikarenakan karena pollen dan spora mempunyai karakterisitik khas seperti:

  • Resisten terhadap pengrusakan dibandingkan dengan bagian lain dari tumbuhan, sehingga mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi fosil
  • Ukurannya sangat kecil (< 200 mikron ) rata-rata 20-100 mikron sehingga mudah ditransport dan diendapkan seperti partikel sedimen lainnya
  • Produksinya besar/banyak sehingga dapat memungkinkan dilakukan perhitungan statistik
  • Bentuknya khas sehingga mudah dibedakan antara satu dengan yang lain (dalam tingkat Famili, Genus, ataupun Spesies)

Pengambilan dan pemilihan sampel batuan untuk analisis palynology untuk mendapatkan hasil yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Jenis batuan yang mengandung pollen dan spora
    • Sedimen klastik halus berwarna hitam/karbonan (lempung hitam, lanau,  serpih, pasir lempungan)
    • Sedimen organik (lignit, batubara)
    • Stalagtit, stalagmit
    • Endapan garam
  • Pengambilan sampel batuan
    • Pilih singkapan yang segar dengan jenis batuanseperti kriteria diatas
    • Kupas bagian luar singkapan dengan palu/pisau untuk menghilangkan lumut dan jamur yang menempel dipermukaan
    • Ambil sampel, beri label, masukan ke kantong sampel dan tutup rapat agar tak terkontaminasi oleh polen resen
    • pemberian kode sampel

Setelah itu proses dilanjutkan di dalam lab palynology dengan memperhatikan prosedur preparasi palynology, hal ini dikarenakan proses preparasi pollen dan spora menggunakan  bahan kimia yang berbahaya.  dalam proses preparasi palynology ini preparator harus mengenakan jas lab, sarung tangan plastik tebal, sepatu, kacamata plastik dan masker yang representatif.  Proses dari preparasi palynology secara sederhana dapat diringkas sebagai berikut :

  • Sampel batuan diambil kurang lebih 20-50 gram dan masukkan dalam botol polypropilen kemudian direndam den
  • Sampel batuan diseleksi dan dibersihkan dari fraksi non batuan dengan   menggunakan pisau.
  • gan HCl 37 % dan dipanaskan selama 2 jam. Setelah tidak ada reaksi dinetralkan dengan akuades.
  • Sampel batuan kemudian dipindahkan dan direndam dengan HF 40 % dan dipanaskan selama 8 jam kemudian dinetralkan dengan akuades.
  • Sampel batuan direndam dengan HCl 37 % panas selama 2 jam untuk menghilangkan kalsium florida dan dinetralkan dengan akuades kemudian dibiarkan sampai mengendap.
  • Hasil endapan kemudian disentrifuge (1500 rpm) selama 5 menit kemudian diukur dengan kertas lakmus sampai pH netral.
  • Hasil sentrifuge dioksidasi dengan HNO3 panas selama 3 menit untuk mengurangi bahan organik amorf dan mineral sulfida kemudian dinetralkan dengan akuades.
  • Sampel direndam dengan KOH 10 % panas selama 3 menit untuk menghilangkan material humik dan memperjelas morfologi palinomorf kemudian dinetralkan dengan akuades.
  • Sampel disentrifuge 1500 rpm untuk memisahkan material organik dan non-organik kemudian disaring dengan menggunakan saringan nilon 5 µm untuk memisahkan palinomorf dengan material lain.
  • Residu akhir kemudian dibuat slide menggunakan kaca preparat.

preparasiPengamatan mikroskopis dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya. Pada perbesaran minimum 400 kali, minyak emersi diteteskan pada kaca preparat yang bersentuhan dengan lensa obyektif mikroskop. Identifikasi polen dan spora berdasarkan Paleopalynology (Traverse, 2007), Pollen flora of Taiwan (Huang, 1972), An Introduction o Pollen Analisys (Erdtman, 1943), Late Pleistocene and Holocene Vegetation of West Java, Indonesia (Stuijts, 1993), How to Know Pollen and Spore (Kapp, 1969), An Illustrated Guide to Pollen Analysis (Moore dan Webb, 1978), Diagnostic Characters of Pollen Grain of Japan. Part I (Nakamura, 1980) dan Spore Morphology of Japanese Pteridophites (Nasu dan Seto, 1986).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*