Parameter Palynofacies

Palinofacies adalah studi facies pengendapan berdasarkan dari material palinologi sebagai hasil dari proses preparasi slide untuk analisis pollen dan spora (palinologi).  Anasisis palinofacies ini digunakan dalam kondisi tidak ditemukan polen atau spora sehingga dalam penentuan lingkungan pengendapan tidak dapat menggunakan polen atau spora sebagai penanda lingkungan pengendapan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka sebagai alternatif untuk menentukan lingkungan pengendapan digunakan analisis palinofacies.  Pada analisis ini yang digunakan adalah kerogen dari hasil proses preparasi palinologi.

Penentuan palynofacies dari suatu lingkungan pengendapan menggunakan beberapa parameter dari hasil pengamatan mikroskopis material organik dalam slide palynology.

1. Persentase Amorphous Organic Matter/AOM (dari total material organik palinologi). Jumlah yang besar dari AOM adalah hasil kombinasi tingginya pengawetan dan lingkungan  pengendapan dengan energi yang rendah. Pengawetan AOM secara langsung berhubungan dengan kondisi dysoxic, tapi tidak terlalu penting berhubungan produktifitas primer.

2. Persentase phytoclast (dari total material palinologi). Persentase yang tinggi dari kelompok phytoclast sangat berhubungan dengan lingkungan pengendapan proksimal. Fasies  pengendapan proksimal dianggap sebagai tempat pengendapan yang dekat dengan sumber asal sedimen (fluvio-deltaic point source) yang menunjukkan kecepatan sedimentasi dan pengaruh dari daratan (teresterial) yang besar. Faktor yang mengontrol adalah jarak transportasi dari partikel dan faktor yang lain adalah kondisi oksidasi dan ketahanan relatif dari partikel juga berhubungan dengan kedekatan sumber. Secara umum jumlah partikel phytoclast yang besar diendapkan di sungai pada lingkungan pengendapan estuarin atau  delta.

3. Persentase palinomorf (dari total material palinologi). Kelompok ini sedikitnya dibagi menjadi tiga kelompok lagi dimana kehadirannya di kontrol oleh AOM dan ketahanan dari phytoclast. Jumlah palinomorf yang besar, didominasi oleh sporomorf menunjukkan kedekatan dengan sumber daratan berasosiasi dengan kondisi oksigenasi. Konsekuensinya jumlah AOM yang kecil dilihat sebagai kecepatan pengawetan yang rendah. Berdasarkan jenis mikroplanktonnya perbandingan sporomorf dengan fitoplankton menunjukkan kecenderungan proksimal-distal.

4. Perbandingan Opaque-Translucent (O:TR). Partikel opaque phytoclast berasal dari oksidasi material translucent, dimana sudah tertransport dalam waktu yang lama. Sebaliknya material translucent terendapkan pada lingkungan dekat pantai (nearshore) dengan waktu yang pendek. Dengan demikian keduanya dapat menjadi indikator kecenderungan proksimal-distal.

5. Perbandingan Equidimensional to lath opaque phytoclast (O-Eq:O-La) Jumlah partikel opaque equidimensional yang besar menunjukkan kedekatan dengan sumber sebagai hasil transportasi yang pendek. Material opaque equidimensional terpilah menurut daya apungnya (buoyancy), dimana partikel yang lebih kecil terendapkan lebih ke arah distal. Interpretasi ini hanya diaplikasikan ketika jumlah partikel opaque equidimensional lebih besar daripada partikel opaquelath. Nilai perbandingan Opaque-Translucent (O:TR) dan perbandingan Equidimensional to lath opaque phytoclast (OEq:O-La) harus diplot dalam bentuk grafik logaritma karena nilainya akan memberikan grafik plot yang lebih simetri.

6. Palynologycal Marine Index (PMI)
PMI dihitung dengan menggunakan rumus PMI= (Rm/Rt + 1)100, dimana Rm adalah jumlah dari marin palinomorf (dynoflagellate cyst, acritarchs dan foraminiferal test linings) dan Rt adalah jumlah palinomorf darat (polen dan spora) yang dihitung persampel. Nilai dari PMI yang tinggi diinterpretasikan sebagai lingkungan pengendapan marin dengan kondisi normal, dimana  sampel yang tidak ada marin palinomorf nilai mempunyai PMI 100.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*