apa itu mangrove?

Pertemuan antara daratan dengan laut membentuk suatu pola lingkungan yang khas, yang dapat berupa pantai berpasir, estuarin atau delta. Delta merupakan suatu hasil paket sedimen yang terbentuk pada lokasi dimana sungai memasuki lautan atau badan air lainnya, jadi sebenernya delta dapat terbentuk di danau juga. Sedangkan estuarin adalah muara sungai tempat dimana percampuran antara air tawar dengan air laut, dengan akumulasi sedimen dalam batas wilayah tertentu, yang tidak keluar kearah laut. Pola lingkungan pengendapan menjadi khas karena sangat tergantung dari analisis palinologi.

deltaDalam analisis palynology sering kita mendapatkan istilah mangrove, apa sebenarnya mangrove itu. Mangrove merupakan salah satu ekosistem di pantai yang berupa hutan dengan tumbuhan penciri yang khas karena dapat hidup dan beradaptasi dengan lingkungan payau atau campuran antara air tawar dengan air laut. Mangrove selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Hutan mangrove meliputi pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennia, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus.

Berdasarkan jenis vegetasinya mangrove sendiri dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu mangrove dan backmangrove. Daerah mangrove terletak dibagian depan yang selalu terkena pengaruh pasang surut laut, daerah ini dominan adanya polen Rhyzophora atau Zonocostites ramonae dan Avicennia terkadang juga ditemukan adanya dynoflagellate cyst yang lebih mencerminkan daerah yang lebih ke arah lingkungan marin. Sedangkan backmangrove berada di belakang zona mangrove yang lebih ke arah daratan yang masih dipengaruhi oleh pasang tertinggi, zona ini memiliki salinitas yang lebih rendah sehingga tumbuhannya juga lebih beragam seperti Sonneratia, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus dan Lummitzera. Di zona ini juga ditemukan spora Acrostichum aureum dan Acrostichum speciosum yang hanya dapat hidup pada daerah ini.

Pada analisis palynology zona mangrove menjadi sangat penting karena jika kita sudah menemukan fosil yang merupakan kumpulan penciri dari zona ini maka dapat kita pastikan kita sedang bekerja di daerah tepi pantai bukan pada daerah daratan fluvial atau lakustrin.

Setelah terjadinya tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu kita kembali sadar akan pentingnya daerah mangrove sebagai tembok pertahanan pertama pertama terhadap tsunami dan sebagai pelindung garis pantai terhadap abrasi. Pada bidang perikanan ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang.

2 Comments

  1. selamat malam, saya mau tanya, bagaimana sih sebuah polen dapat terendapkan pada permukaan tanah/sedimen mangrove/danau (perairan), sedangkan karakteristik dari polen itu sendiri berukuran kecil, sehingga akan mudah terbawa angin, mengapung, terbawa arus air, dlsb. bagaimana proses dari polen itu melewati suatu volume air untuk bisa mencapai dasar perairan itu sendiri dan menjadi sebuah fosil.
    terima kasih

    • Terima kasih mba Widi telah berkenan mampir. Proses pengendapan pada pasarnya semua sama, kita ibaratkan pollen/partikel sedimen tersebut adalah kopi yang ditaruh dalam gelas kemudian kita isi air dan kita aduk. Setelah sekian lama pastinya kopi itu akan mengendap di dasar gelas. Sama dengan partikel yang ada diperairan maka proses itulah yang terjadi apalagi kalau perairan tersebut tenang seperti danau atau rawa. Yang harus kita sadari adalah proses pengendapan ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama dalam ratusan bahkan jutaan tahun. Perlu diketahui yang terendapkan bukan hanya polen atau spora tetapi juga partikel lempung atau mineral lainnya. Semoga dapat menjawab pertanyaan Mba Widi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*