Lingkungan pengendapan polen dan spora

Penentuan lingkungan pengendapan (paleoenvironment) dilakukan berdasarkan hasil analisis fosil dalam hal ini bisa analisis foraminifera, nannofosil, palinologi dan hasil analisis fosil yang lain kemudian hasil analisis tersebut digabungakan dengan hasil petrologi dan petrografi untuk mendapatkan fasies lingkungan pengendapan.

Analisis lingkungan pengendapan memakai palinologi ditentukan dari asosiasi kumpulan polen dan spora yang dianggap mencerminkan ekologi hidupnya. Hal ini menggunakan prinsip geologi “the present is the key to the past” yang berarti menggunakan pola ekologi yang sekarang yang digunakan untuk menginterpretasi lingkungan ekologi masa yang lampau. Contohnya adalah dengan kita melihat sistem pengendapan delta sekarang kita dapat menggambarkan kondisi delta pada masa lalu dengan beberapa hal yang harus diperhatikan seperti pengaruh manusia dalam perkembangannya yang secara tidak langsung kemungkinan akan merubah pola aliran, arus kondisi fisik kimia sungai yang berpengaruh pada hewan dan tumbuhan yang berkembang di daerah tersebut. Terkadang kita lupa tentang posisi geografis pada analisis kita, tentunya berbeda bentukan yang terjadi di daerah subtropis dengan hasil pengendapan yang terjadi di daerah tropis seperti di indonesia hal ini juga kan berpengaruh terhadap vegetasi yang tumbuh di keduanya. Hal ini yang sering kita lupakan pada waktu analisis data kita, kita terkadang secara langsung menerapkan model yang dibikin di eropa padahal lokasi penelitian kita di Indonesia.paleoenvironment hassledonxInterpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan palinologi untuk daerah tropis seperti di Sumatra , Jawa dan Kalimantan dapat menggunakan model Haseldonckx (1974) yang membagi lingkungan pengendapan menjadi 8 kelompok berdasarkan asosiasi takson – takson pencirinya, yaitu :Hinterland (Montane Rain Forest, Lowland Rain Forest, Lake dan Riparian Fringe).

  • Flood Plain & Alluvial Plain
  • Sandy Beach & Barrier Island
  • Lagoon
  • Delta & Estuary
  • Mangrove & Back Mangrove
  • Coastal Plain (Delta & Estuary, Lagoon, dan Sandy Beach & Barrier Island)
  • Marine (Sublittoral dan Open Marine)

Lingkungan pegunungan dicirikan oleh kehadiran Pinus, dan Dacrycarpidites australiensis. Lingkungan hutan dataran rendah dicirikan oleh Durio type, Calamus, Sapindaceae, Acacia sp, Graminae, Alangium sp dan Cyperaceae. Lingkungan air tawar atau freshwater dicirikan oleh kehadiran Arenga, Macaranga, Palmae, Calamus, Calophyllum, Graminae, Bluemedendron, Croton, Euphorbiceae, Myrica type, Castanopsis, Timonius sp, Polygonum, Chenopodiaceae dan Nymphaea. Lingkungan riparian dicirikan oleh kehadiran Calophyllum sp., Pandanus sp., Ilex, Malvaceae, Myrtaceae dan Pometia sp. Lingkungan pantai dicirikan oleh kehadiran dari Baringtonia sp, Palmae, Pandanus sp, Casuarina sp, Ipomea sp dan Compositae.

Lingkungan mangrove dicirikan oleh kehadiran Sonneratia alba, Rhizoporaceae, Avicennia, dan Acanthaceae. Lingkungan backmangrove dicirikan oleh kehadiran Acrostichum aureum, Nypa fruticans, Oncosperma, Lumnizera sp, Exocaria sp dan Sonneratia caseolaris. Sedangkan lingkungan laut dicirikan oleh kehadiran Dynoflagellate cyst dan Foraminifera test lining.

2 Comments

  1. salam,
    apakah anda mempunyai alur analisis polen standard untuk penentuan ingkungan pengendapan dan umur relatif?
    atau referensi yg bisa digunakan?
    Maturnuwun

    • kalau untuk alur penentuan lingkungan pengendapan dan umur relatif pada dasarnya seperti analisis mikrofosil lain seperti foraminifera dan nannoplankton dengan menggunakan zonasi umur yang sudah terpublish sedangkan untuk lingkungan pengendapan dengan menggunakan asosiasi fosil penciri lingkungan

      terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*